Jumat, 11 Januari 2019

Matahari siang ini begitu menyingsing.Teriknya membuat ku menyerngitkan kening.Dengan rambut panjang terurai membuat titik-titik keringat memenuhi dahiku.
Membawa koper yang berisikan barang-barang membuat jalanku gontai.
Suara bising mobil dan motor menambah suasana ciri khas kota kelahiranku.
Para pejalan kaki menghiasi setiap sudut jalan trotoar.Begitu juga denganku.aku berjalan cepat ditrotoar menuju halte bus.Setelah sampai dihalte bus.Aku hanya bisa tertunduk malas menanti bis yang akan lewat dari hadapanku.Tapi nyatanya belum jua ada bus yng lewat.
Rasa bosan kian menghampiriku.Hingga kuraih ponselku untuk memberitahu ke orang tua kalau aku akan segara datang kerumah kurang dari satu jam(pulng dari perantauan).
Ada rasa cemas dihati dan perasaanku saat menyadari ada seorang anak kecil pria yang sejak tadi berada duduk tepat disamping jarak dua meter dariku.
Usianya berkisar lima tahunan.
Aku masih baru menyadari kalau anak itu menangis tersedu-sedu.
Dihalte bus ini sunyi kian menghantui.Cuma ada aku dan anak itu.Angin kencang mulai menabrakku.Memaksakanku melangkah kerah menuju anak itu.Aku berusaha membuka sedikit percakapan.
Dekk......ucapku seraya membawa pandangannya ke arahku.
Tapi anak itu sedikitpun tak menolehku.
Anak itu hanya bisa mengangguk pelan.Dek ...ibumu dimana????Kamu disini sama siapa?Ucapku sembari menambah investigasi.
Anak itu belum juga mengeluarkan sepatah katapun.
Hingga kuraih kepala dan mengenai halus wangi rambut nya membuat anak pria itu menolehku.
Anak itu menarik nafas panjang seraya mengeluarkan kata-kata.
Mama.....
Iya mama kamu kenapa????

Tadi itu aku ikut belanja sama mama.Saat melewati toko mainan.Aku berlari menuju toko itu sampai aku gak melihat mama lagi.Ucap anak itu dengan keluguannya.
Segera ku genggam tangan kanan anak itu dan kubawa dia ke toko mainan yang sempat Berkat kunjungi tadi.Ya nama anak itu Berkat.
Nama yang baguss
Ada enam mainan yang aku belikan buatnya Tampak jelas senyum mengembang Berkat.
Berkat......teriak seorang wanita dari balik mobil truk kuning.Ternyata itu adalah ibunya berkat
Rasa cemasku kian menghilang.
Ibunya kini memeluk erat tubuh berkat.Aku merasa senang melihat berkat yang kini tersenyum lebar indah memandangku saat ibunya membawa pergi berkat daru pandanganku sambil menggendongnya.
Cinta seorang ibu takkan pernah lepas dari anak-anaknya.

Berharap aku kan jadi ibu yang baik buat anak-anak ku kelak.

Senin, 07 Januari 2019

Ohhh....Mama malang

Mata masih terjaga menonton televisi.Komedi indonesia yang dibintangi Dono Indro Kasino membuat tahun baru jadi lebih seru.Melihat kelucuan para bintang membuatku tertawa lepas.Bersama adik,aku memandang televisi dengan pasti.Dengan kocar-kacir kakakku berjalan kian kemari.
Kakak kenapa??? Tanyaku menunggu jawaban.
Itu ibu dek,semua keluarga kan ngumpul tuk rayakan tahun baru tapi gak ada satupun dari mereka yang mau ngomongin ibu.Kebetulan tahun baru kali ini kami ngumpul baren keluarga dari ayah.
Semuanya tak pernah menyukai ibuku.Ntah apa salah ibuku.Ntah apa yang pernah diperbuat ibuku sampai membuat mereka menganggap ibuku rendah.
Mendengar hal itu aku segera keluar melangkahkan kakiku menuju gerombolan keluarga yang sedang ngumpul.Dibalik pintu aku memandang ibu yang diam membisu.
Mereka semua tak menghiraukan ibuku.Wajahku memanas.Air mataku mulai memenuhi kedua pipiku.Ibu...ibu... Sungguh malang dikau.
Kedua kakiku kulangkahkan menuju ibu.Air mataku tak kunjung mereda.
Mengalir dan mengalir.
Dengan cepat kugenggam kedua tangan ibu.Kuraih kunci motorku dan segera kubawa  kembali ibu kerumah. Tahun baru kali ini tak seindah yang kubayangkan.sungguh mengecewakan jiwa....😦😦😦😦😦